1.Kebersihan I’tiqad atau Akidah.
Kebersihan dalam aspek ini adalah yang paling utama, yaitu kebersihan aqidah dari syirik atau kekufuran. Jangan sampai aqidah kita tidak bersih, baik kepada Zat Allah, Sifat Allah, maupun perbuatan-Nya. Seringkali kita terjebak secara tidak sadar dalam hal-hal kecil, dimana jika tidak kita fahami secara i’tiqad maka hal-hal kecil itu dapat menjerumuskan kita kepada syirik khafi ( halus ). Misalnya kita sering mengatakan, secara tidak sadar : “ Ijazah inilah yang akan mengubah nasibmu”, “Obat ini yang telah menyembuhkan sakitku selama ini”, “Doktor telah memvonis bahawa hidupnya tinggal 6 bulan lagi”, “Air minum ini dapat menghilangkan hausmu”, ”Andaikan semalam mereka tidak lewat puncak, pasti mereka tidak akan mengalami kecelakaan maut itu”
Atau kita sering bimbang dengan rizki kita, padahal selama kita masih hidup Allah telah menjamin rezeki kita. Atau kita tidak yakin dengan ketentuan Allah, kita tidak redha dengan apa yang Allah telah tentukan kepada kita.
2.Bersih dari sifat Mazmumah ( sifat jahat dalam hati )
Mazmumah ada 2 jenis yaitu mazmumah atau sifat tercela terhadap Allah dan mazmumah terhadap sesama manusia, yaitu
Antara penyakit hati (mazmumah ) terhadap Allah adalah :
Tidak khusyuk beribadah, Lalai dari mengingat Allah,Tidak yakin dengan Allah,Tidak ikhlas dengan Allah,Tidak takut pada ancaman Allah,Tidak harap pada rahmat Allah,Tidak redha akan takdir Allah,Tidak puas dengan pemberian Allah,Tidak sabar atas ujian Allah, Tidak bersyukur atas nikmat Allah,Tidak terasa diawasi Allah,Tidak terasa kehebatan Allah,Tidak rindu dan cinta dengan Allah,Tidak tawakal pada Allah,Tidak rindu pada syurga dan tidak takut neraka,Gila dunia, membuang waktu dengan sia-sia,Penakut (takut pada selain Allah),Ujub,Riya’,Gila pujian dan kemasyhuran
Sedangkan mazmumah terhadap sesama manusia diantaranya, adalah :
Benci membenci,Rasa gembira kalau dia mendapat celaka dan rasa sedih kalau dia berhasil, Medoakan kejatuhannya, Tidak mahu minta maaf dan tidak memaafkan kesalahannya, Hasad dengki, Dendam, Bakhil, Buruk sangka, Tidak berlapang dada, Tidak tenggang rasa, Tidak tolong-menolong, Tamak, Degil dan keras hati, Mementingkan diri sendiri, Sombong, Tidak sabar dengan manusia, Memandang hina kepada seseorang, Riya’, Ujub, Rasa diri bersih
3.Bersih dari hawa Nafsu yang jahat.
Kita mesti bersih dari nafsu yang jahat, sebab nafsu itu kalau kita ikuti, maka Allah akan menganggap kita bertuhankan nafsu. Tuhan berfirman, “Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan?.” di firman yang lain Allah menyebutkan “ sejahat-jahat manusia adalah yang menuruti kehendak hawa nafsunya” .Nafsu adalah kehendak dalam diri manusia yang Allah ciptakan berupa fitrah, baik itu kehendak yang sesuai dengan syariat atau yang bertentangan dengan syariat. Kewajiban kita adalah membersihkan dan mendidik nafsu dari hal-hal yang melanggar syariat dengan cara melawan nafsu ( mujahadatun nafsi ) yang jahat diiringi dengan menyuburkan kehendak-kehendak yang sesuai dengan kehendak yang Allah redhai
4. Perkara yang lahiriah juga mesti terbebas atau bersih dari hal-hal yang makruh terlebih lagi yang haram. Iaitu kebersihan makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian, rumah, kamar mandi, dan lain-lain.
5. Kebersihan pergaulan dari terlibat pergaulan yang makruh atapun haram, bergaul bebas tanpa ada batasan syariat dan lain-lain.
6. Bersih di sudut ibadah,
Misalnya bersih dari 3 jenis najis,bersih dari najis aini dan najis hukmi. Wajib bersih juga dari hadas besar dan hadas kecil, dari hal-hal yang menjijikan seperti kotoran hidung, kotoran mata, kotoran telinga. Begitu juga bersih dari perkara-perkara belepotan. Hidarkan sholat dengan pakaian yang tidak kemas dan rapih atau pakaian yang ala kadarnya, walaupun tidak najis tapi kita depan Tuhan. Bila mau bertemu orang penting saja, kita bersih, wangi, pakai make up sedangkan dengan Allah kita asal-asalan. Secara tidak sadar kita sudah mengecilkan Tuhan atau tidak beradab dengan Tuhan.
7. Kebersihan akal dari ideologi
Zaman solafussoleh dahulu umat Islam tidak ada ideologi-ideologi atau –isme seperti saat ini. Ideologi adalah cara atau sistem hidup yang direka oleh manusia yang tidak ada kaitannya dengan wahyu. Bersih dari Ideologi artinya jangan kita jadikan ideologi sebagai pegangan, sebagai agama,sebagai cara hidup.Tanpa terkecuali, seperti komunis, nasionalis, kapitalis, sosialis, demokrasi dsb. Sebagai ilmu tidak mengapa belajar ideologi, tapi jangan kita jadikan sebagai pegangan hidup. Kerana hanya Islam saja merupakan sistem hidup yang diredhai Allah. Begitu juga ekonomi kita, pendidikan kita, hendaklah bersih dari sekulerisme, dari riba, penindasan, terutama pendidikan mesti bersih sebab pendidikan sangat mencorak jiwa peribadi dan pendirian kita. Jangan sampai pendidikan kita bercorak sekuler.
Diantara yang berbahaya dalam pendidikan sekuler yaitu mengesampingkan Tuhan, Allah tidak dimasukkan dalam setiap program pendidikan atau pendidikan tidak dikaitkan dengan Yang Maha Pencipta. Walaupun yang dipelajari perkara yang halal, akan tetapi bisa jadi hasilnya akan menjadi haram bila Allah ditinggalkan atau dikesampingkan. Kita mungkin bertanya, “apa salahnya saya belajar matematika, sastera, sejarah,ekonomi,sains?” Jawabnya, Tidak salah. Jasi salahnya dimana? Salahnya iaitu jika itu semua tidak dikaitkan dengan Allah atau mengesampingkan Allah. Jadi dikeranakan tidak dikaitkan dengan Allah, ilmu-ilmu yang tidak salah tadi menjadi salah.Kenapa? Sebab jika mengesampingkan Allah maka sains jadi Tuhan, matematika jadi Tuhan, walaupun tidak menyebut itu Tuhan. Side effect-nya juga ialah semakin maju peradaban, semakin canggih teknologi, semakin gagah pembangunan material maka semakin rusak akhlak dan moral manusia, semakin banyak terjadi kejahatan dan peperangan, dan lain-lain.
Wahyu Allah yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad adalah : “iqra’ bismi rabbikal ladzi khalaq…”
8.Bersih dari adat.
Sekadar belajar adat tidak mengapa, tapi jangan dijadikan sebagai pegangan. Sebab Islam itu sudah syumul / lengkap / sempurna. Misalnya pembagian harta waris. Di beberapa darah, perempuan mendapat harta lebih banyak dari lelaki bahkan ada yang semua diberikan pada perempuan. Boleh jadi orang yang kawin dengan perempuan dari daerah itu secara tidak sadar dia makan harta haram. Masih banyak lagi contoh adat yang tidak sesuai dengan syariat. Jangan sebut adat bersendi syariat, sebut saja syariat, kerana itu adalah dua hal yang berbeza, adat merupakan ciptaan manusia sedangkan Islam adalah dari Allah.
Jadi kebersihan menurut Islam, menurut kehendak Allah itu bersifat global. Marilah kita mengukur diri kita. Mungkin kita sudah menjaga kebersihan akidah dan ibadah, tapi pendidikan, ekonomi, akal dan pergaulan belum bersih. Atau misalnya walaupun tidak ikut ideologi, tapi kalau kita membesarkan dan memuja akal, pergaulan kita masih bebas, ekonomi masih terlibat riba dan kapitalis ertinya kita belum bersih juga.



No comments:
Post a Comment